Sejak kecil aku sering berlibur di tempat-tempat wisata di Medan dengan keluargaku. Banyak tempat wisata di daerah tempat tinggalku yang sudah kudatangi. Namun, ada beberapa yang belum aku kunjungi hingga sekarang seperti Danau Toba. Sejak aku beranjak ke usia remaja aku sangat ingin pergi ke Danau Toba karena hampir semua teman-temanku pernah kesana bahkan lebih dari sekali. Sering ada ajakan untuk pergi rombongan ke Danau Toba, Tapi aku selalu tidak mendapatkan izin dari orang tuaku.
Hingga setelah aku pindah ke Aceh aku juga belum pernah ke Danau Toba. Ironis sekali aku rasa ”masa’ orang medan gak pernah ke Danau Toba” itulah yang selalu ada dibenakku.
Namun keinginanku terkabul karena pada hari Jum’at, 3 Desember 2010 aku bersama rombongan temanku (anak Aceh) pergi ke Danau Toba. Hari itu aku benar amat senang sekali karena keinginanku untuk mengunjungi Danau Toba tercapai. Selama ini aku hanya mendengar cerita-cerita dari teman-temanku, menonton acara liburan di telivisi dan membaca cerita tentang segala hal tentang Danau Toba.
Hari itu kami berangkat dari Banda Aceh pukul 21:00 WIB. Hari terasa sangat panjang karena kami harus duduk di Bus selama kurang lebih 15 jam. Namun,keceriaan teman-temanku membuat aku lupa akan sakitnya pantatku duduk di dalam bus selama itu. Banyak teman –temanku yang tak sabar ingin cepat sampai. Mereka selalu bertanya kepadaku ” dah nyampe mana Ros? Berapa jam lagi sampai?”. Mereka seperti anak balita yang saking senengnya diajak pergi berlibur dan penasaran karena tidak sampai-sampai ke tujuan. Jujur, geli aku mendengarnya karena sebenarnya aku juga tidak terlalu faham jalan di Sumatra Utara. Aku hanya mempunyai sedikit informasi tentang perjalanan, itupun setelah aku bertanya kepada mamaku yang sudah pernah pergi kesana berkali-kali.
Sesampainya di Danau Toba sekitar pukul dua siang itu, kami menyewa rumah bertingkat tiga yang berada di pinggiran Danau Toba. rumah itu memiliki dua kamar mandi dan sepuluh kamar sederhana yang hanya berisikan satu tempat tidur di dalamnya. Air disana sangat dingin hingga terasa menusuk ke badan ketika kita menggunakan air tersebut. Aku tidur dengan temanku yang sakit saat kami tiba di danau toba. Pertama aku merasa agak resah. Aku takut kalau ia akan bertambah sakit di malam hari atau kerasukan karena aku banyak mendengar cerita mistis tentang daerah itu dari teman-temanku yang pernah kesana. Tapi kutenangkan diriku dengan berfikir positif.
Keesokan harinya kami menyewa Kapal Sihar, sebuah kapal feri yang terbuka untuk pergi ke Pulau Samosir. Kami yang saat itu berjumlah 35 orang duduk di atas kursi yang terbuat dari besi tersusun rapi di atas kapal. Di atas kapal kami asyik memandangi pegunungan di depan kami sambil mengambil banyak gambar untuk kenang-kenangan. Pegunungan yang hijau itu sangat mempesona ditambah dengan adanya pemandangan seperti dua air terjun yang aku kira itulah air terjun Sipiso-piso dan air terjun Sigura-gura. Namun, belakangan aku mengetahui bahwa itu hanyalah aliran air yang berasal dari gunung(alur). Dari belakang kapal aku juga dapat melihat hamparan homogen yang hanya berisi satu ,macam pohon di dalamnya. Panorama yang kami lihat di kapal benar-benar menyegarkan mata.
Sesampainya kami di Pulau Samosir, kami langsung dapat melihat sebuah tugu yang bergambarkan lima jenis suku Batak yaitu; Batak Toba, Batak Pak-pak(Dairi), Batak Karo, Batak Mandailing, dan Batak Simalungun. Kami berfoto ria di tugu itu. Setelah itu, kami mulai berjalan ke desa Tomok. Banyak orang-orang berjualan baju, pernak-pernik dan souvenir lainnya di sepanjang jalan yang kami lewati. Harga yang ditawarkan di kedai-kedai tersebut relatif lebih murah dibandingkan dengan harga barang-barang yang ada di kedai-kedai di dekat penginapan kami.
Di desa Tomok kami berfoto ria dengan patung Sigale-gale yang saat itu dalam posisi diam tak bergerak. Kata seorang bapak yang duduk di sekitar tempat itu, kami dapat melihat patung Sigale-gale menari selama 15 menit apabila kami mau membayar uang sebesar enam puluh ribu rupiah. teman-temanku tidak mau melihat patung itu menari karena takut padahal aku sangat ingin melihatnya. Setahuku kita dapat melihat dengan gratis patung Si gale-gale akan menari dengan sendirinya setiap ada upacara adat. Menurut temanku yang pernah melihatnya ada sesuatu yang berbau mistis dengan patung tersebut. Selain itu, aku dan beberapa temanku juga mengunjungi makam Raja Sidabutar. Di makam raja itu kami diceritakan tentang sejarah Pulau Samosir, Desa Tomok, Raja Sidabutar dan tentang sejarah benda-benda dan patung-patung yang ada di sekitar makam Raja tersebut oleh seorang bapak tua yang kami panggil opung ( panggilan untuk kakek dalam Bahasa Batak).
Setelah sejam berjalan dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di desa Tomok kami kembali ke penginapan kami dengan kapal yang sama. Di tengah perjalanan kami melihat Batu Gantung sebuah batu yang menyerupai anak kecil terletak di tengah-tengah tebing yang terjal.
Sepulang dari Pulau Samosir kami bergegas untuk kembali ke Medan. Perjalanan kami di Danau Toba telah selesai. Aku puas dengan apa yang telah aku lihat dan rasakan. Akhirnya keinginanku melihat dan berfoto dengan patung sigale-gale tercapai walaupun belum sempat melihatnya menari. Semua anggota Rombongan yang ikut dalam perjalanan itu merasa puas terutama aku. Bagiku perjalananku ke Danau Toba ini benar-benar tidak terlupakan.
Huahhahaaa..... sesakit gimana fantatnya buk...?
BalasHapusohya buk.. jangan lupakan kenangan masa pakai Topi cuma 10 Ribu.... heeheeee
hahaha....
BalasHapusitu bisa di tambahin kapan2.