Saya adalah mahasiswa FKIP Bahasa Inggris semester 8 yang sedang menjalankan mata kuliah yaitu Program Pengalaman Lapangan di salah satu sekolah menengah pertama di Aceh Besar. Yaitu SMP Negeri 2 Darul Imarah. Ini adalah pertama kalinya saya mengajar di sekolah berperan menjadi seorang guru untuk menghadapi berbagai macam manusia.
Sebelum menjalankan program ini saya sempat mendengar dari kakak-kakak letting bahwa melakukan Praktek Pengalaman Lapangan itu sangat capai, menguras otak dan energi dan sangat tidak enak. Kira-kira itulah kesimpulan yang dapat saya ambil dari cerita mereka. Mereka mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan di sekolah, bahkan banyak diantara mereka yang menangis karena dikerjai muridnya atau yang lebih parah lagi mereka kehilangan berat badan mereka karena terserang stres. Tapi alhamdulillah itu tidak terjadi padaku.
Di awal –awal praktek ini ada terbesit di fikiranku “akankah aku akan berakhir seperti kakak letingku?” .namun aku optimis bahwa aku tidak akan seperti mereka. Kemudian aku mulai beradaptasi dengan guru-guru dan murid-murid di tempat aku PPL. Aku tidak merasakan hal yang tidak menyenangkan. Kebetulan aku mendapat jatah mengajar dua kelas yaitu di kelas VII D dan VII B.
Aku mulai mengenal anak didikku mulai dari kebiasaannya di kelas, karakter mereka bahkan latar belakang mereka. Aku sangat senang dapat mempelajari mereka,mengetahui hal-hal tentang mereka karena aku banyak belajar dari itu. Karena ketiga hal tersebut mempengaruhi proses belajar mereka.
Pertama-tama aku mengajarkan kedua kelas tersebut dengan metode dan evaluasi yang sama d kedua kelas tersebut, namun aku menemukan perbedaan yang sangat signifikan.
Hari senin adalah jadwal aku mengajar di kelas VII D dan VII B yaitu pada jam pelajaran ke 4 dan 5 di kelas VII D dan jam pelajaran 6 dan 7 di kelas VII B. Kedua kelas ini adalah kelas biasa. Saat itu aku membawakan materi tentang ekspresi meminta dan memberi jasa. Lantas saya hanya membuat satu RPP dengan metode yang sama yaitu communicative approach. Setelah selesai menjelaskan ekspresi apa saja yang harus dipakai untuk meminta dan memberi jasa, saya memberikan suatu role play kepada mereka sehingga mereka akan membuat suatu dialog seperti yang saya contohkan untuk kemudian mereka presentasikan ke depan kelas bersama teman sebangku. Di kelas VII D mereka dapat memahami dengan mudah apa yang saya sampaikan sehingga mereka telah dapat membentuk suatu dialog dengan melihat contoh ynag saya berikan. Lalu mereka mempraktekkan dialog tersebut ke depan kelas secara bergiliran. Namun ketika saya masuk ke kelas VII B dan mengajarkan metode yang sama dengan role play yang sama, mereka tidak dapat menangkap apa yang saya berikan dan tidak dapat membentuk suatu dialog, hanya satu atau dua orang yang melakukannya.
Kemudian saya berfikir keras untuk mencari solusi masalah ini. Pertemuan selanjutnya saya membuat RPP yang sama tapi dengan cara penyampaian yang berbeda serta media evaluasi yang berbeda juga. Atau kadang-kadang saya memberikan games yang berhubungan dengan pelajaran yang saya ajarkan saat itu sehingga kedua kelas tersebut dapat mencernanya dengan baik.
Walau begitu saya mengalami banyak kendala menghadapi siswa. Setiap siswa memepunyai kapasitas berbeda. Walupun saya telah menemukan bahwa materi yang saya sampaikan dapat diterima oleh mereka melalui permainan –permainan yang saya berikan terkadang permainan juga tidak berhasil untuk membuat mereka memperhatikan ketika saya berbicara di depan kelas. Saya merasa sangat lelah ketika anak-anak menjadi ribut dan tidak memperhatikan apa yang saya katakan. Ini benar-benar melelahkan karena ketika saya memberikan soal, mulailah mereka bertanya tentang sesuatu yang tidak mereka mengerti. Namun, sebagai seorang guru saya pantang menyerah. Itulah pentingnya pengamatan terlebih dahulu. Setelah mengetahui apa-apa saja yang mereka biasa lakukan maka saya memilih jalan memasang muka brimob, maksudnya saya kadang-kadang menegur atau memarahi mereka jika mereka sedang lalai dalam belajar. Selain itu juga banyak lagi yang timbul jika saya sedikit saja lalai terhadap anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar